Sunday, June 12, 2011

Desa Suwawal




Di Desa Suwawal yang indah ini aku dilahirkan .....
desa yang memberi aku seribu impian dan harapan ku,
Aku memulai belajar dan bermain itu di Desa Suwawal Tercintaku ini ,
Sekolah pertamaku Juga didesa ini .....
Desa ini adalah desa  indahku dan ini bagian hidupku ....


DAN MOTIVASIKU ADALAH INGIN MEMBANGUN DAN MENJUNJUNG DESA INI .....
Desa Suwawal

Sunday, May 29, 2011

Oleh - oleh Khas Jepara

Oleh - oleh Khas Jepara

Makanan

Makanan Khas Jepara:
  • Pindang Srani
  • Rondo Royal (Monyos) = tape goreng yang dibungkus tepung.
  • Klenyem (Lempok) = ketela parut goreng isi gula merah.
  • Kenyol (Gantilut) = ketela parut dibungkus daun pisang dan tengahnya diisi gula merah, cara masak dikukus.
  • Nogosari = tepung dibungkus daun pisang dan tengahnya diisi buah pisang masak, cara masak dikukus.
  • Moto Belong = ketela parut dibungkus daun pisang dan tengahnya diisi buah pisang masak, cara masak dikukus, dan disajikan dengan cara dipotong-potong agak miring menyerupai bola mata dan dimakan dengan kelapa yang diparut dicampur sedikit gula.
  • Poci = tepung dari ketan yang dibungkus daun pisang dan dibentuk kerucut diisi campuran kelapa parut dan gula merah.
  • Kuluban = urap-urap dengan nangka muda, kacang panjang dan daun mudanya, tauge mentah, dan buah petai, disajikan mentahan.
  • Pecel Ikan Laut Panggang = ikan laut bakar dengan bumbu sambal santan kelapa.
  • Horok-horok* = makanan yang sangat langka dan hanya ditemukan di jepara ini dibuat dengan bahan baku sagu. dengan cara pembuatan yang cukup aneh yaitu menggunakan sisir rambut. bentuknya seperti busa sterofom yang kenyal dengan rasa sedikit asin. biasanya dimakan sebagai campuran bakso,gado-gado, ataupun lainnya.
  • Horok-Horok Janganan = Horok-horok* di beri sayur-sayuran seperti: Daun Bayam, Toge, Kacang Panjang, bong (bambu muda), dll, lalu di beri sambal.
  • Horok-Horok Cecek = Horok-horok* yang dimakan dengan lauk cecek (Seperti Sate Kulit)
  • Bontosan = adonan krupuk ikan tenggiri dalam bentuk gelondongan dan sudah dikukus.
  • Sate Udang dan Sate Kerbau
  • Terasi Jepara
  • Kacang Oven
  • Kacang Jepara = Kacang tanah yang masih ada kulitnya alias belum di kupas kulitnya, di sangrai dengan pasir putih sampai warna kulit kacang menjadi kehitaman.
  • Durian Petruk (Durio Zybethinus Kultivar Petruk)
  • Jeruk Jepara (Limnocitrus Littoralis (miq) Swingle)
  • Gereh Iwak Teri = Ikan teri yang dijadikan semacam ikan asin, kebanyakan dari pulau karimunjawa.
  • Latuh/Lato = sejenis rumput laut, enak dimakan dalam keadaan segar, dan konon bisa menyembuhkan radang tenggorok, amandel.
  • Tempong (blenyik) = ikan teri mentah yang dikeringkan, bentuknya seperti bakwan.
  • Sutet = Susu Telor Tegangan Tinggi


Minuman

Minuman khas Jepara:
  • Adon-adon Coro = minuman jahe santan dengan irisan kelapa bakar, yang disajikan hangat.
  • Es Gempol = minuman santan dan gempol (bola dari tepung beras), biasa disajikan manis, asin, hangat ataupun dingin.
  • Es Pleret = minuman santan dan pleret (tepung beras yang dimakan sedikit kenyal) hampir mirip dengan gempol.
  • Dawet Jepara (Es Cendhol / Cendol) = terbuat dari bahan-bahan tepung sagu, gula merah asli, santan kelapa.

Tempat Wisata di Jepara

Tempat Wisata di Jepara


Wisata Alam

  • Pulau Karimunjawa dan gugusannya
  • Pulau Panjang
  • Pulau Mandalika, di Ujungwatu
  • Pantai Kartini, di Bulu
  • Pantai Tirto Samodra, di Bandengan
  • Pantai Empu Rancak, di Karanggondang
  • Pantai Pungkruk, di Mororejo
  • Pantai Guamanik Pecatu, di Ujungwatu
  • Pantai Teluk Awur, di Telukawur
  • Pantai Semat, di Semat
  • Pantai Bondo, di Bondo
  • Cagar Alam Gunung Clering, di Clering
  • Air Terjun Songgo Langit, di Bucu
  • Mbelik (Mata Air) Bidadari dan Jaka Tarub, di Daren
  • Telaga Sejuta Akar, di Bondo
  • Gua Tritip, di Ujungwatu
  • Gua Manik, di Sumanding
  • Wono Pinus Sentra, di Batealit
  • Wisata Alam Sreni Indah, di Bategede


Wisata Sejarah

  • Benteng Portugis, di Ujungwatu
  • Benteng VOC, di Ujungbatu
  • Musium R.A Kartini, di Panggang
  • Tempat Plasenta (Ari-ari) R.A Kartini, di Pelemkerep
  • Masjid Mantingan, di Mantingan
  • Gapura Masjid Jami' Baiturrohman I, di Robayan
  • Candi Angin, di Tarung


Wisata Religi (Ziarah)

  • Cirosomo (Makam Para Adipati/Bupati yang pernah memimpin Jepara dan keluarga besar R.A Kartini), di Sendang
  • Makam Sultan Hadirin dan Ratu Kalinyamat serta Raden Abdul Jalil (Sunan Jepara), di Mantingan
  • Makam Syeh Siti Jenar, di Kelet
  • Makam Habib Sodiq (Yek Nde), di Kriyan
  • Makam Mbah Roboyo, di Robayan
  • Makam Datuk Gunardi, di Singaraja
  • Makam Habib Ali, di Mayong
  • Makam Ronggo Kusumo, di Manyargading
  • Makam Syeh Abu Bakar, di Pulau Panjang
  • Makam Pangeran Syarif dan Mbah Jenggolo, di Saripan
  • Makam Ki Gede, di Bangsri
  • Makam Syeh Amir Hasan (Sunan Nyamplungan), di Karimunjawa


Wisata Keluarga

  • Tiara Park Waterboom and 3D Theater, di Purwogondo
  • Alamoya Waterboom, di Bapangan
  • Kolam Renang Sinta Pool, di Pecangaan Kulon
  • Agrowisata Jeruk, di Bategede


Wisata Belanja

  • Pasar Kerajinan, di Margoyoso
  • Pasar Apung, di Demaan
  • Pasar Karangrandu (Pasar Jajan khas Jepara), di Karangrandu
  • Pasar Ngabul, di Ngabul
  • Pasar Lelang Mebel, di Rengging
  • Shopping Center Jepara (S.C.J), di Panggang
  • Kalau ingin kasur anda hangat + nyaman beli " Kapuk " asli bukan campuran di tempak Bpk. Sayuti , Alamat Ds.Suwawal Barat Rt 02/02,Kec :Mlonggo,Yang Terbaik hanya di tempat Bpk.Sayuti bukan yang lainnya.

Saturday, May 28, 2011

Tenun Troso

Untuk pengisi libur, Anda bisa mencoba mengunjungi Sentra Kerajinan Kain Tenun Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Jepara. Kita akan bisa melihat langsung proses pembuatan kain tenun dan berbelanja kain tenun aneka warna dan fungsi yang dijual di toko di sepanjang jalan desa.

Perjalanan menuju desa tersebut tidak terlalu sulit karena posisi sentra industri tersebut yang berada di pinggir jalan utama menuju Jepara. Jika tidak menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan dapat dimulai dari Terminal Terboyo, Semarang, dengan menumpang bus jurusan Semarang-Jepara. Setelah sekitar satu jam berkendara, kita bisa minta diturunkan di gapura desa dengan motif tenun bertuliskan "Selamat Datang di Sentra Tenun Troso".


Lalu perjalanan bisa dilanjutkan dengan menumpang angkutan pedesaan berwarna biru jurusan Pecangaan-Bugel-Jepara. Angkutan yang mangkal di sebelah utara kompleks Walisongo dan Pasar Pecangaan itu berangkat dari Pecangaan, melewati Desa Troso yang di kanan-kirinya terdapat unit-unit produksi dan penjualan kain tenun.

Tidak terlalu sulit untuk menemukan perajin tenun yang sebagian besar bengkelnya berada di dalam gang kampung. Kita bisa mengikuti suara berisik yang ditimbulkan oleh alat tenun bukan mesin (ATBM). Kita juga dapat melihat dari benang-benang yang dijemur di depan rumah perajin. Mereka pun dengan ramah akan mempersilakan Anda untuk melihat proses produksi.

Jika berminat, kita pun bisa membeli hasil kerajinan langsung dari perajin. Tentu, bakal ada selisih harga dengan kain tenun troso yang dijual di toko-toko di pinggir jalan desa.

Proses panjang

Seperti dijelaskan oleh Wawan Kurniawan (25), salah satu perajin, dari benang hingga menjadi lembaran kain sedikitnya diperlukan empat proses pengerjaan. Proses dimulai dari menter atau mewarnai. Dalam proses ini, benang diwarnai sesuai keinginan untuk kemudian dijemur. Berikutnya, proses spul atau benang digulung kecil. Proses ketiga, benang dicucuk atau dipasang ke alat tenun bukan mesin. Proses yang terakhir adalah penenunan.

Walaupun bersifat industri rumah tangga, kain tenun troso tersebut telah membawa harum nama Indonesia hingga ke penjuru dunia.

Tenun troso dikenal di Australia, Jepang, Kanada, hingga Amerika. Menurut Norhuda (38), salah seorang perajin, pada saat krisis ekonomi global memukul sektor kerajinan tidak terkecuali mebel jepara, para perajin kain tenun troso malahan tidak terpengaruh. Konsumen di luar negeri tetap banyak yang mencari tenun troso akibat penurunan stok di negaranya karena banyak produsen yang tutup terkena dampak krisis.

Satu hal yang menarik, para perajin di Troso juga menyediakan kain tenun dengan motif berbagai daerah seperti motif toraja dan lombok. Dengan begitu, kita pun tidak perlu jauh-jauh ke Lombok atau Toraja jika ingin mendapatkan tenunan bermotif khas daerah tersebut.

Karenanya, datang saja ke Troso, opo wae ono.... 

Sekilas Sejarah Kesenian Jepara

Sekilas Sejarah Kesenian Jepara


Kesenian Jepara salah satunya yang menonjol adalah  SENI UKIR,yang pada masanya Ratu Kalinyamat yang sangat berjasa dalam membudidayakan Kesenian Ukir Jepara. Sejarah SENI UKIR Jepara Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, terdapat seorang patih bernama Sungging Badarduwung yang berasal dari Campa (Kamboja) ternyata seorang ahli memahat pula.
Hasil karya Patih tersebut masih bisa di lihat di komplek Masjid Kuno dan Makam Ratu Kalinyamat yang di bangun pada abad XVI. Keruntuhan Kerajaan Majapahit menyebabkan tersebarnya para ahli dan Seniman-seniman Hindu ke berbagai wilayah paruh pertama abad XVI. Seniman-seniman tersebut tetap mengembangkan keahliannya dengan menyesuaikan identitas daerah baru tersebut hingga timbulah macam-macam motif kedaerahan seperti: Motif Majapahit, Bali, Mataram, Pajajaran, dan Jepara yang berkembang hingga saat ini di Jepara, yang pada saat ini menjadi andalan utama masyarakat Jepara yaitu perpaduan SENI UKIR Majapahit dengan SENI UKIR Patih Badarduwung Yang Berasal Dari Negeri Cina. Selain itu Jepara juga mempunyai SENI TENUN TROSO, yang berkembang sampai saat ini. Yang berasal dari Desa Troso yang terletak antara 13 s/d 14 km dari kota jepara. Menjadikan Kabupaten Jepara merupakan sentra kerajinan Tenun ikat dan merupakan produk unggulan Kabupaten Jepara setelah industri Mebel dan Monel.

Copy By Rumah Kartini

Wednesday, May 25, 2011

Sejarah Kota Jepara



SEJARAH JEPARA

Asal nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara, yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M)” mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini, serta dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas.
Menurut seorang penulis Portugis bernama Tome Pires dalam bukunya “Suma Oriental”, Jepara baru dikenal pada abad ke-XV (1470 M) sebagai bandar perdagangan yang kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan dipimpin oleh Aryo Timur dan berada dibawah pemerintahan Demak. Kemudian Aryo Timur digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus (1507-1521). Pati Unus mencoba untuk membangun Jepara menjadi kota niaga.
Pati Unus dikenal sangat gigih melawan penjajahan Portugis di Malaka yang menjadi mata rantai perdagangan nusantara. Setelah Pati Unus wafat digantikan oleh ipar Faletehan /Fatahillah yang berkuasa (1521-1536). Kemudian pada tahun 1536 oleh penguasa Demak yaitu Sultan Trenggono, Jepara diserahkan kepada anak dan menantunya yaitu Ratu Retno Kencono dan Pangeran Hadiri suami. Namun setelah tewasnya Sultan Trenggono dalam Ekspedisi Militer di Panarukan Jawa Timur pada tahun 1546, timbulnya geger perebutan tahta kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Hadiri oleh Aryo Penangsang pada tahun 1549.
Kematian orang-orang yang dikasihi membuat Ratu Retno Kencono sangat berduka dan meninggalkan kehidupan istana untuk bertapa di bukit Danaraja. Setelah terbunuhnya Aryo Penangsang oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono bersedia turun dari pertapaan dan dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar NIMAS RATU KALINYAMAT.
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579), Jepara berkembang pesat menjadi Bandar Niaga utama di Pulau Jawa, yang melayani eksport import. Disamping itu juga menjadi Pangkalan Angkatan Laut yang telah dirintis sejak masa Kerajaan Demak.
Sebagai seorang penguasa Jepara, yang gemah ripah loh jinawi karena keberadaan Jepara kala itu sebagai Bandar Niaga yang ramai, Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perangnya ke Malaka guna menggempur Portugis pada tahun 1551 dan tahun 1574. Adalah tidak berlebihan jika orang Portugis saat itu menyebut sang Ratu sebagai “RAINHA DE JEPARA”SENORA DE RICA”, yang artinya Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya.
Serangan sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hamper 40 buah kapal yang berisikan lebih kurang 5.000 orang prajurit. Namun serangan ini gagal, ketika prajurit Kalinyamat ini melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan Portugis di Malaka, tentara Portugis dengan persenjataan lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Kalinyamat.
Namun semangat Patriotisme sang Ratu tidak pernah luntur dan gentar menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang di abad 16 itu sedang dalam puncak kejayaan dan diakui sebagai bangsa pemberani di Dunia.
Dua puluh empat tahun kemudian atau tepatnya Oktober 1574, sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar di Malaka. Ekspedisi militer kedua ini melibatkan 300 buah kapal diantaranya 80 buah kapal jung besar berawak 15.000 orang prajurit pilihan. Pengiriman armada militer kedua ini di pimpin oleh panglima terpenting dalam kerajaan yang disebut orang Portugis sebagai “QUILIMO”.
Walaupun akhirnya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari Penjajahan Portugis di abad 16 itu.
Sebagai peninggalan sejarah dari perang besar antara Jepara dan Portugis, sampai sekarang masih terdapat di Malaka komplek kuburan yang di sebut sebagai Makam Tentara Jawa. Selain itu tokoh Ratu Kalinyamat ini juga sangat berjasa dalam membudayakan SENI UKIR yang sekarang ini jadi andalan utama ekonomi Jepara yaitu perpaduan seni ukir Majapahit dengan seni ukir Patih Badarduwung yang berasal dari Negeri Cina.
Menurut catatan sejarah Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di desa Mantingan Jepara, di sebelah makam suaminya Pangeran Hadiri. Mengacu pada semua aspek positif yang telah dibuktikan oleh Ratu Kalinyamat sehingga Jepara menjadi negeri yang makmur, kuat dan mashur maka penetapan Hari Jadi Jepara yang mengambil waktu beliau dinobatkan sebagai penguasa Jepara atau yang bertepatan dengan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan Candra Sengkala TRUS KARYA TATANING BUMI atau terus bekerja keras membangun daerah.

Friday, January 14, 2011

LAMBANG JEPARA



ARTI LAMBANG DAERAH


  1. LAMBANG DAERAH Kabupaten Jepara berbentuk PERISAI BERSUDUT LIMA, dan berisi lukisan :

    1. Nama Daerah “Jepara” ditulis dengan huruf latin (Romawi), berwarna merah diatas dasar putih.
    2. LANGIT berwarna biru muda
    3. GUNUNG berwarna biru tua
    4. BINTANG bersudut lima warna kuning emas
    5. MENARA berwarna putih
    6. POHON BERINGIN warna hijau bersulur empat dan berakar lima
    7. UKIR-UKIRAN relung motif Jepara asli berwarna coklat
    8. SEBULIR PADI berbiji 17 berwarna kuning
    9. SETANGKAI RANTING dengan 8 buah KAPOK yang sedang merekah berkulit coklat dan isi putih.
    10. BUNGA MELATI berwarna putih diikat dengan pita merah.
    11. TANAH DATARAN berwarna hijau muda
    12. LAUT berwarna biru dan bergelombang biru muda


History Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat Jepara


RATU KALINYAMAT JEPARA


Ratu Kalinyamat or Queen of Jepara was women Indonesian figure who had important role in politic and economic activities in Nusantara in the 16th century. She had original name was Retno Kencono. She was daughter of  Sultan Trenggana, king of Demak Kingdom who ruled in the medium of 16th century. In 1544 Sultan Trenggana sent Ratu Kalinyamat to asked support from King Banten for territorial expansion of Demak Kingdom in East Java.  Ratu Kalinyamat ruled in Jepara since 1549, changed her husband, Pangeran Hadiri, as king of  Jepara.  In 1551 she sent military expedition  to helped King of Johor attacked Portugis in Malaka. In 1574 she sent military expedition again to drived away  Portugis in Malaka fort helped King of Aceh. As long as ruled in Jepara she developed Jepara as international harbor successfully. She also  pioneered carving as the specific art of Jepara, after that it’s become important economic activity in Jepara.  Ratu Kalinyamat died in 1579.

Wisata Jepara - Pantai Kartini

PANTAI KARTINI

























[navigasi.net] Pantai - Kartini


Referensi :   AMGD




Lokasi : -;Jepara;Jepara
Kordinat GPS : S6.598350 - E110.652922
Ketinggian : 1 m
Fotografer : AMGD










Sebagian besar orang mengenal Kota Jepara sebagai Kota Kartini, karena
seorang pahlawan wanita telah dilahirkan dikota ini. Selain menyandang
gelar Kota Kartini, sebutan kota ukir juga sangat pas, karena sentra-sentra ukir
banyak sekali tersebar diwilayah ini. Sisi lain yang belum tereksploitasi adalah sisi
wisata kota Jepara, karena sebelah utara wilayah ini langsung berbatasan dengan pantai utara jawa,
sehingga wisata pantai menjadi salah satu primadona. Salah satu pantai yang cukup terkenal adalah
Pantai Kartini, yang terletak kurang lebih hanya 2 km sebelah barat kantor Pemda Kabupaten
Jepara. Menghormati dan menjalankan tradisi, agaknya telah menjadi keharusan di kabupaten Jepara.
Tradisi Kupatan yaitu sebuah tradisi perayaan lebaran yang dilaksanakan seminggu setelah Idul Fitri,
yang merupakan tradisi turun temurun terbukti masih dilaksanakan sampai sekarang.
Tradisi Kupatan di Pantai Kartini adalah sebuah upacara pelarungan kepala kerbau ketengah laut
yang dilakukan oleh Bupati dan tokoh masyarakat setempat. Pagi itu,
kurang lebih jam 06.30 Pantai Kartini sudah dipenuhi oleh ratusan orang,
anak-anak sampai dengan orang tua, sibuk bergerombol dan asyik dengan kegiatannya masing-masing
ditepi pantai. Keramaian ini tidak seperti biasanya, karena dipintu masuk banyak aparat keamanan
 bersenjata lengkap yang sedang melakukan pengamanan. Ternyata rombongan Bupati Jepara
akan memasuki Pantai Kartini dan akan melakukan upacara pelarungan kepala kerbau ketengah laut.








[navigasi.net] Pantai - Kartini

Sejenak kemudian rombongan memasuki dermaga, yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk. Setelah beberapa saat melakukan do'a, upacara pun dimulai dan kepala kerbau dilarungkan ketengah laut.